Danantara Bongkar Kusutnya BUMN Karya: Utang Ratusan Triliun, Anak-Cucu Ikut Bermasalah
Jakarta — Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara mengungkap besarnya persoalan yang tengah dihadapi perusahaan BUMN karya. Jika digabungkan, total utang perusahaan-perusahaan tersebut mencapai ratusan triliun rupiah.
COO Danantara Dony Oskaria mengatakan pihaknya sedang berupaya menyelesaikan berbagai persoalan BUMN karya secara bertahap. Menurutnya, besarnya nilai utang menjadi salah satu faktor yang membuat proses penyelesaian membutuhkan waktu.
“Inilah yang memakan waktu yang juga masyarakat harus tahu bahwa problem ini kan sudah cukup lama dan besar. Inilah yang satu satu. Karena dampaknya itu kan ratusan triliun utangnya mereka. Ini yang total di antara perusahaan-perusahaan karya itu,” ujar Dony di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (18/8/2026).
Dony mengatakan persoalan BUMN karya tidak hanya berkaitan dengan besarnya liabilitas dan utang. Menurutnya, kondisi tersebut juga terjadi pada banyak anak perusahaan yang berada di bawah masing-masing BUMN karya.
“Saya sampaikan apa adanya. Pertama bahwa liabilitasnya besar-besar. Utangnya besar-besar,” ucapnya.
Menurut Dony, persoalan tersebut menjadi semakin kompleks karena masing-masing BUMN karya memiliki banyak anak perusahaan. Bahkan, setiap perusahaan disebut memiliki lebih dari 20 anak perusahaan.
“Masalahnya ini tidak hanya di level holding. Tetapi dia punya anak-anak perusahaan yang juga bermasalah. Bisa bayangkan masing-masing punya anak perusahaan lebih dari 20,” kata Dony.
Karena itu, Danantara harus menyelesaikan persoalan tersebut satu per satu. Proses tersebut dinilai menjadi salah satu alasan mengapa penataan BUMN karya membutuhkan waktu.
“Jadi kita mesti bereskan itu one by one, satu per satu, satu per satu. Inilah yang memakan waktu,” sambungnya.
Tak Pilih Cara Instan
Dony mengungkapkan bahwa sebenarnya Danantara memiliki opsi untuk menyelesaikan persoalan BUMN karya secara lebih cepat. Namun, langkah tersebut berpotensi memberikan dampak terhadap para pekerja maupun ekosistem bisnis yang terkait.
Menurutnya, salah satu opsi yang dapat ditempuh adalah membuat perusahaan pailit atau melakukan merger. Namun, pilihan tersebut tidak langsung diambil karena Danantara turut mempertimbangkan dampaknya.
“Tapi kami memikirkan juga dampaknya. Dampaknya apa untuk ekosistem yang lainnya. Jadi memang hati-hati sekali,” katanya.
Dengan kompleksitas persoalan tersebut, Dony belum dapat memastikan kapan seluruh masalah BUMN karya akan selesai.
Ia mengatakan Danantara tetap mengupayakan agar persoalan tersebut dapat diselesaikan pada akhir 2026. Namun, prosesnya masih menghadapi dinamika yang cukup rumit.
“Ini saya nggak bisa pastikan karena berproses terus. Saya tetap mengupayakan akhir tahun ini sudah selesai. Tetapi dinamika di dalam menyelesaikan ini kan cukup rumit,” imbuh Dony.



