Purbaya Siapkan Strategi Baru, Kejar Pertumbuhan Ekonomi RI Tembus 6% pada Akhir 2026
Jakarta – Di tengah tantangan yang membayangi perekonomian nasional, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah terus menyiapkan berbagai langkah untuk menghadapi gejolak global dan menjaga laju pertumbuhan ekonomi dalam negeri.
Purbaya menjelaskan pemerintah terus mencermati perkembangan berbagai indikator ekonomi sebagai acuan dalam merumuskan kebijakan secara cepat apabila terlihat tanda-tanda perlambatan. Upaya tersebut juga mencakup menjaga likuiditas perbankan agar penyaluran kredit tetap optimal, sehingga mampu mendukung aktivitas ekonomi dan menjaga daya beli masyarakat.
“Ramai di media sosial bahwa Indonesia menghadapi serangan syok ekonomi yang datang hampir bersamaan. Likuiditas mengetat, asesmen MSCI memicu reaksi pasar, Fitch merevisi outlook peringkat utang dari stabil menjadi negatif, dan nilai tukar rupiah berada di bawah tekanan. Biasanya satu syok saja sudah cukup menguji ketahanan ekonomi. Kali ini kita menghadapi empat tekanan sekaligus. Namun ekonomi Indonesia tetap berdiri kokoh. Sistem keuangan tetap stabil dan aktivitas ekonomi terus berjalan. Ini menunjukkan bahwa fondasi ekonomi Indonesia jauh lebih kuat dibandingkan masa-masa krisis sebelumnya,” katanya di GIIAS 2026, Selasa (4/8/2026) dikutip dari CNBC Indonesia.
Ia juga mengatakan pemerintah mengambil langkah cepat merespons perlambatan yang sempat terjadi pada penjualan mobil, sepeda motor, dan semen dengan memperkuat dukungan likuiditas bagi sektor perbankan. Kebijakan tersebut bertujuan memberi ruang yang lebih luas bagi perbankan untuk meningkatkan penyaluran kredit, sehingga konsumsi dan investasi dapat kembali terdorong.
“Ketika data turun seperti itu saya periksa uang yang digelontorkan ke perbankan masih efektif atau tidak. Yang sebelumnya Rp200 triliun saya pertahankan sampai akhir tahun dan saya tambah lagi Rp200 triliun dari dana pemerintah yang ada di Bank Indonesia. Dua minggu lalu saya injek lagi uang ke sistem menjadi Rp400 triliun. Itu untuk memastikan sistem keuangan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat. Kalau masih kurang nanti saya tambah lagi sampai jumlahnya cukup di perekonomian,” ujar Purbaya.
Di samping menjaga kecukupan likuiditas, pemerintah juga berfokus menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif agar Indonesia semakin menarik bagi investor dan produsen global. Purbaya menyebut berbagai kendala investasi akan ditangani melalui satuan tugas khusus sehingga permasalahan yang dihadapi dunia usaha dapat diselesaikan lebih cepat tanpa terhambat proses birokrasi yang panjang.
“Kami sudah membentuk Debottlenecking Task Force untuk menghapus berbagai hambatan yang dihadapi pelaku usaha. Kalau ada kendala investasi atau bisnis, laporkan langsung kepada kami. Pemerintah bukan hanya membuat aturan, tetapi mencari titik sumbat, mempertemukan semua pihak, lalu menetapkan solusi dan tenggat waktu yang jelas agar investasi bisa segera berjalan.”
Di sektor otomotif, Purbaya menegaskan pemerintah akan terus melanjutkan kebijakan pengembangan kendaraan listrik. Menurutnya, langkah tersebut tidak hanya bertujuan memperkuat industri otomotif nasional, tetapi juga mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak di tengah ketidakpastian geopolitik global. Pemerintah juga mempertimbangkan pemberian insentif yang lebih menarik bagi investor yang membangun fasilitas produksi di Indonesia.
“Banyak yang bertanya soal keseriusan pemerintah mendorong kendaraan listrik. Kami akan terus melanjutkan program itu. Dua atau tiga minggu lagi Presiden akan meluncurkan stimulus baru untuk kendaraan listrik. Kami juga siap memberikan berbagai insentif bagi investor yang membangun fasilitas produksi di Indonesia, termasuk jika ada perusahaan yang ingin memindahkan basis manufakturnya ke Indonesia,” kata Purbaya.
Di hadapan para pelaku industri otomotif, Purbaya mengajak sektor swasta memanfaatkan momentum pemulihan ekonomi untuk mendorong pertumbuhan. Ia meyakini permintaan domestik akan semakin menguat apabila likuiditas tetap terjaga, investasi terus meningkat, dan dunia usaha kembali berperan sebagai penggerak utama perekonomian bersama belanja pemerintah.
“Saya yakin pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mendekati 6% pada paruh kedua tahun ini. Saya akan mengeluarkan setiap kebijakan yang memungkinkan, baik dari sisi fiskal maupun bekerja sama dengan kebijakan moneter, agar ekonomi bergerak pada potensinya. Kalau mesin pemerintah dan sektor swasta sama-sama bekerja, pertumbuhan 6% bukan sesuatu yang sulit dicapai,” sebutnya.



