ID FOOD Balik Untung, dari Rugi Rp231 Miliar Jadi Laba Rp1,34 Triliun

Jakarta – PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau ID FOOD berhasil membalikkan kinerja keuangan pada 2025. BUMN holding pangan tersebut mencatat laba tahun berjalan sebesar Rp1,34 triliun, setelah pada 2024 masih mengalami kerugian Rp231 miliar.
Perolehan laba tersebut juga jauh melampaui target yang ditetapkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2025. ID FOOD sebelumnya menargetkan laba sebesar Rp621 miliar, sehingga realisasi laba mencapai 216 persen dari target.
Perbaikan kinerja tersebut sejalan dengan peningkatan pendapatan konsolidasian perusahaan. Pada 2025, pendapatan ID FOOD tumbuh 55,5 persen menjadi Rp19,91 triliun, dibandingkan Rp12,80 triliun pada 2024.
“Pertumbuhan pendapatan tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong perbaikan kinerja Perseroan sepanjang tahun 2025,” kata Direktur Utama ID FOOD Ghimoyo.
Dari sisi operasional, EBITDA perusahaan juga mengalami peningkatan signifikan. EBITDA ID FOOD naik 110,5 persen menjadi Rp899 miliar pada 2025, dari sebelumnya Rp427 miliar.
Menurut Ghimoyo, peningkatan tersebut memberikan ruang keuangan yang lebih baik bagi perseroan untuk menjalankan operasional sekaligus memenuhi kewajiban pembiayaan.
“Kondisi ini memberikan ruang yang lebih baik bagi perseroan untuk memenuhi kebutuhan modal kerja dan kewajiban pembiayaan, sekaligus menjaga kapasitas investasi dan pengembangan usaha secara berkelanjutan,” ujarnya.
Produksi Gula Jadi Salah Satu Penopang
Kinerja positif ID FOOD turut ditopang peningkatan volume produksi sejumlah komoditas, terutama gula.
Sepanjang 2025, realisasi produksi gula mencapai 329.728 ton. Angka tersebut setara 103 persen dari target produksi yang ditetapkan sebesar 321.427 ton.
Peningkatan produksi tersebut turut mendorong penjualan gula kristal putih (GKP). Selain bisnis gula, sejumlah sektor lain yang berada dalam ekosistem ID FOOD, seperti perdagangan, peternakan, garam, perikanan, dan pertanian, juga mencatat pertumbuhan positif.
Ghimoyo menegaskan peningkatan pendapatan harus dibarengi dengan penguatan kinerja operasional perusahaan.
“Pertumbuhan pendapatan perlu memiliki fondasi operasional yang kuat. Karena itu, kami terus mendorong sisi produksi, memperkuat penjualan dan distribusi, serta memastikan pengelolaan setiap komoditas dilakukan secara efektif dan efisien,” kata Ghimoyo.
Restrukturisasi Ikut Dongkrak Kinerja
Selain faktor operasional, perbaikan kinerja keuangan ID FOOD juga didukung sejumlah langkah korporasi.
Perseroan melakukan restrukturisasi finansial, optimalisasi aset, revaluasi aset yang menghasilkan surplus, serta memperoleh pendapatan dari restrukturisasi sejumlah anak perusahaan.
Kombinasi berbagai langkah tersebut membantu memperbaiki kondisi keuangan perusahaan sekaligus memperkuat kemampuan ID FOOD dalam menjalankan bisnis pangan.
Ghimoyo menyebut capaian 2025 menjadi modal bagi perusahaan untuk melanjutkan perbaikan kinerja dan menjalankan perannya dalam mendukung agenda pemerintah di sektor pangan.
“Kinerja yang kian membaik ini menjadi modal berharga bagi perusahaan untuk terus berkontribusi mendukung program Asta Cita pemerintah, khususnya dalam memperkuat sektor pangan guna mewujudkan swasembada pangan nasional,” ujarnya.



