Uji Daya Tahan BUMN Karya di Tengah Restrukturisasi

Jakarta – Pemerintah masif memacu restrukturisasi BUMN sektor Konstruksi atau BUMN Karya dalam rangka mentransformasi fundamental perusahaan pelat merah agar lebih berdaya saing. Upaya tersebut memicu skeptisisme pasar terhadap keberlanjutan proyek-proyek yang tengah berjalan.
Upaya restrukturisasi juga dijalankan di tengah rencana BP BUMN melakukan konsolidasi terhadap tujuh BUMN Karya. Secara keseluruhan, hingga Juli 2026, sekitar 240 entitas BUMN telah dikonsolidasikan sebagai bagian dari upaya membangun struktur perusahaan yang lebih efisien, sehat, dan mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional.
Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria menjelaskan melalui sistem pengelolaan yang semakin terintegrasi, aset-aset BUMN diharapkan dapat dimanfaatkan secara lebih produktif guna memperkuat tata kelola perusahaan, mendongkrak efisiensi operasional, serta menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar bagi negara.
“Kita ingin setiap aset BUMN dikelola sebagai satu kekuatan besar, bukan berjalan sendiri-sendiri. Kalau pengelolaannya makin terintegrasi, manfaatnya juga akan jauh lebih besar, baik untuk negara, dunia usaha, maupun masyarakat,” ujar Dony, Kamis, (30/7/2026).
Lewat upaya tersebut, pemerintah optimistis mampu membentuk BUMN yang lebih efisien dan berdaya saing tinggi, sekaligus memberikan nilai tambah bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Kendati begitu, tingkat ketahanan serta kepastian penyelesaian pengerjaan proyek di lapangan justru menjadi pertanyaan besar masyarakat.
Salah satu yang kini menyedot perhatian publik adalah tersendatnya pengerjaan proyek hunian berorientasi transit, LRT City, yang dikembangkan oleh entitas anak PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI), yakni PT Adhi Commuter Properti Tbk. (ADCP).
Direktur Portofolio Bisnis & Risiko sekaligus Sekretaris Perusahaan ADHI, Rozi Sparta tak menampik bahwa tersendatnya penyelesaian proyek tersebut terjadi lantaran ketatnya likuiditas yang dimiliki perseroan.
“Saat ini, ADCP menghadapi tantangan likuiditas yang berdampak pada penyelesaian proyek. Pipeline business yang berbasis pengembangan kawasan berbasis Transit Oriented Development (TOD), mengharuskan korporasi untuk menyediakan kawasan lahan di sekitar area stasiun transportasi umum: Commuter Line, LRT, dan BRT termasuk menyediakan fasilitas infrastruktur pendukung,” ujar Rozi dalam keterbukaan informasi, Rabu (29/7/2026).
Di sisi lain, tambah Rozi, kondisi pasar properti dalam beberapa tahun terakhir yang belum sepenuhnya pulih turut mempengaruhi tingkat penjualan produk, sehingga berdampak pada penerimaan kas dan kemampuan pendanaan penyelesaian proyek.
Kendati demikian, ADHI tetap menekankan komitmennya untuk dapat merampungkan proyek tersebut secara bertahap.
Manajemen WSKT turut memastikan bakal menyelesaikan sejumlah proyek yang ada sesuai dengan tenggat waktu yang ditetapkan. Manajemen WSKT menyebut, salah satu proyek besar yang saat ini tengah dikerjakan yakni Proyek LRT Jakarta Fase 1B.
Direktur Operasi II Waskita Karya Paulus Budi Kartiko menjelaskan bahwa infrastruktur tersebut nantinya akan menghubungkan Jakarta Timur dengan Jakarta Pusat. Kemudian memperkuat integrasi antarmoda di Stasiun Manggarai.
“Saat ini telah diselesaikan pemasangan Steel Box Girder di atas jalur kereta api aktif Double-Double Track (DDT) Manggarai, dengan window time terbatas kurang dari tiga jam. Rangkaian pemasangan girder dilakukan tanpa mengganggu operasional KRL maupun kereta antarkota yang melintasi jalur tersebut,” jelas Paulus.
Kini, lanjutnya, pekerjaan LRT Jakarta Fase 1B dalam proses pengecoran slab deck atau lantai struktural pada jembatan. Kemudian akan langsung dilanjutkan pemasangan beton precast parapet & u-ditch.



