PTBA Siap Pangkas Separuh Anak Usaha dalam Dua Tahun

Jakarta – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) akan merampingkan struktur anak usahanya dalam dua tahun ke depan. Sekitar separuh dari 19 anak perusahaan yang saat ini dimiliki perseroan akan menjalani restrukturisasi secara bertahap.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PTBA Una Lindasari mengatakan, langkah perampingan telah dimulai dengan menggabungkan dua anak usaha, yakni PT Bukit Energi Investama (BEI) dan PT Bukit Energi Servis Terpadu (BEST).
Merger kedua perusahaan tersebut telah rampung pada 30 Juni 2026. Dengan aksi tersebut, jumlah anak usaha PTBA berkurang dari sebelumnya 20 menjadi 19 perusahaan.
“PTBA saat ini memiliki 19 anak perusahaan, sebelumnya 20, dan kami baru selesai melakukan merger antara dua anak perusahaan, yaitu BEI dan BEST,” kata Una dalam public expose, dikutip Selasa (8/9/2026).
Setelah merger tersebut, PTBA akan melanjutkan penataan terhadap entitas anak lainnya. Una menyebut sekitar separuh dari 19 anak perusahaan yang ada saat ini menjadi sasaran restrukturisasi dalam satu hingga dua tahun mendatang.
“Dari jumlah anak perusahaan tersebut, target kami mungkin separuh dari 19 ini akan dilakukan restrukturisasi bertahap sampai 1–2 tahun ke depan,” ujarnya.
Restrukturisasi dilakukan sebagai bagian dari upaya PTBA menyesuaikan struktur bisnis dengan arahan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Perseroan diminta kembali memusatkan kegiatan usaha pada kompetensi inti.
“Ini sesuai arahan Danantara yang meminta PTBA untuk berfokus pada kompetensi intinya (core competence), yaitu bisnis batu bara (coal business), serta seluruh bisnis yang berkaitan dengan pertambangan batu bara,” kata Una.
Dengan penataan tersebut, PTBA akan lebih fokus mengembangkan bisnis yang memiliki keterkaitan langsung dengan kegiatan pertambangan batu bara, sekaligus meningkatkan efisiensi struktur perusahaan.
Kinerja PTBA Menguat
Restrukturisasi anak usaha dilakukan ketika kinerja keuangan PTBA menunjukkan perbaikan. Pada semester I 2026, perseroan mencatat pendapatan Rp22,03 triliun, naik 8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Laba bersih PTBA bahkan melonjak 218% secara tahunan menjadi Rp2,65 triliun. Perbaikan tersebut didorong pemulihan operasional pada kuartal II, peningkatan volume ekspor, serta kenaikan harga jual rata-rata batu bara.
Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan mengatakan perseroan memanfaatkan penguatan harga batu bara global melalui strategi penjualan yang lebih adaptif, sembari menjaga efisiensi biaya.
“Memasuki periode dengan kondisi operasional yang lebih kondusif, perseroan berhasil mendorong pemulihan kinerja produksi sekaligus memperkuat penjualan ekspor. Momentum penguatan harga batu bara global kami manfaatkan melalui strategi penjualan yang adaptif, disertai program efisiensi untuk menjaga disiplin biaya,” ujar Bambang.
Dari sisi operasional, produksi batu bara PTBA sepanjang semester I 2026 mencapai 19,45 juta ton. Sementara total penjualan mencapai 21,10 juta ton.
Penjualan ekspor tercatat 10,33 juta ton atau tumbuh 5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sejumlah pasar utama ekspor PTBA antara lain Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, dan Thailand.
Adapun penjualan domestik mencapai 10,77 juta ton atau sekitar 51% dari total penjualan.
Penguatan harga batu bara juga turut menopang kinerja perseroan. Pada semester I 2026, Newcastle Index meningkat 25% secara tahunan, sedangkan ICI-3 naik 15%. Kondisi tersebut mendorong harga jual rata-rata batu bara PTBA naik 10% secara tahunan.



