JAKARTA — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) tengah mengkaji kemungkinan penggabungan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) dengan PT Pertamina Gas (Pertagas).
Kajian tersebut menjadi bagian dari upaya penataan struktur bisnis perusahaan gas milik negara, khususnya untuk memperkuat integrasi bisnis di sektor midstream dan downstream minyak dan gas bumi (migas).
Kepala Badan Pengaturan BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, mengatakan PGN dan Pertagas saat ini sudah berada dalam satu struktur, dengan PGN memiliki keterkaitan kepemilikan dengan Pertagas.
Karena itu, Danantara sedang melihat kemungkinan konsolidasi lebih lanjut terhadap kegiatan bisnis kedua perusahaan.
“PGN, Pertagas kita ya, kan mereka sudah 1 persen kan di atasnya PGN. Nanti kita sedang kaji bagaimana proses konsolidasi ke depannya, antara midstream dan downstream-nya. Jadi ada possibility untuk kita gabung,” ujar Dony di Jakarta.
Dony menegaskan, kemungkinan merger tersebut belum menjadi keputusan final. Danantara masih harus melakukan kajian secara menyeluruh sebelum menentukan struktur yang akan diterapkan.
Menurutnya, terdapat sejumlah opsi yang sedang dipertimbangkan, termasuk mengenai struktur perusahaan dan pihak yang nantinya menjadi induk atau holding. Pemerintah akan membandingkan berbagai pilihan berdasarkan manfaat dan biayanya.
Selain aspek struktur korporasi, perusahaan gas nasional ke depan diarahkan untuk memperkuat bisnis midstream dan downstream. Dengan demikian, konsolidasi diharapkan dapat membuat rantai bisnis gas dari penyaluran hingga pemanfaatan oleh konsumen menjadi lebih terintegrasi.
Namun, Danantara belum menetapkan kapan keputusan mengenai penggabungan tersebut akan diambil. Dony menekankan bahwa keputusan strategis tidak dapat dilakukan tanpa kajian mendalam.



