
Jakarta – Harga minyak mentah dunia merosot lebih dari 5% hingga menyentuh level terendah dalam tiga pekan pada perdagangan Selasa. Pelemahan ini dipicu munculnya sinyal positif dari pejabat tinggi Qatar dan Amerika Serikat terkait peluang penyelesaian konflik Iran melalui jalur diplomatik, yang dinilai dapat memperlancar kembali distribusi minyak melalui Selat Hormuz.
Mengutip Reuters, Rabu (5/8/2026), harga minyak mentah Brent ditutup turun US$ 4,41 atau 5,3% ke posisi US$ 79,36 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga terkoreksi US$ 4,57 atau 5,7%, sehingga berakhir di level US$ 75,77 per barel.
Pada Selasa, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan pembicaraan dengan Iran dan Oman menunjukkan perkembangan yang menggembirakan terkait rencana peningkatan arus pelayaran di Selat Hormuz. Meski demikian, hingga kini belum ada kesepakatan akhir yang disahkan.
Sejalan dengan itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya mengatakan kesepakatan dengan Iran terkait pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut berpeluang tercapai secepatnya, yakni pada Selasa atau Rabu pekan ini.
Di sisi lain, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, menyatakan berbagai langkah diplomatik untuk mewujudkan penyelesaian damai konflik masih terus dilakukan. Kantor Emir Qatar juga mengungkapkan bahwa Emir Qatar dan Presiden AS Donald Trump telah menggelar pembahasan guna mencari jalan keluar untuk meredakan ketegangan sekaligus menyamakan pandangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS menyampaikan bahwa putaran terbaru perundingan antara Israel dan Lebanon yang dimediasi Washington resmi dimulai pada Selasa dan dijadwalkan berlangsung hingga Kamis.
Sementara itu, Head of Business Development XS.com, Simon-Peter Massabni, menilai meningkatnya peluang penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik telah mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya menopang harga minyak, terutama setelah aksi pengeboman AS terhadap Iran pada bulan lalu.
“Jika negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran membuat kemajuan yang berarti, pasar dapat terus memperhitungkan probabilitas gangguan pasokan yang lebih rendah, yang selanjutnya mengurangi premi risiko geopolitik yang melekat dalam harga minyak mentah,” kata Massabni.
Meski muncul perkembangan positif, kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global belum sepenuhnya mereda. Hambatan pelayaran di Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama bagi sekitar seperlima distribusi minyak dan gas dunia, telah mendorong sejumlah negara di Timur Tengah memangkas produksi minyak secara signifikan.



