BUMN

Laba KAI Anjlok 74 Persen pada Semester I 2026, Ini Penyebabnya

JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI membukukan penurunan laba yang tajam pada semester I 2026, meski pendapatan perusahaan justru mencatatkan pertumbuhan. Tekanan terhadap laba terutama berasal dari membengkaknya kerugian perusahaan asosiasi dan usaha patungan, termasuk investasi pada proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung.

Berdasarkan laporan keuangan unaudited KAI Group, laba sebelum pajak pada semester I 2026 tercatat sebesar Rp842,69 miliar, turun dari Rp1,86 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, laba tahun berjalan merosot sekitar 74%, dari Rp1,18 triliun menjadi Rp314,03 miliar.

Di sisi lain, kinerja operasional KAI masih menunjukkan pertumbuhan. Pendapatan perusahaan naik 6,6% secara tahunan menjadi Rp17,96 triliun pada semester I 2026. Laba bruto juga meningkat 18,81% menjadi Rp6,79 triliun, sedangkan laba usaha naik 25,79% menjadi Rp4,66 triliun.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, pertumbuhan pendapatan dan laba usaha mencerminkan bisnis inti perusahaan masih tumbuh seiring peningkatan layanan, produktivitas, pengelolaan biaya, serta sinergi antarentitas dalam KAI Group. Menurutnya, kinerja tersebut menjadi modal penting untuk menjaga keselamatan perjalanan, meningkatkan kualitas pelayanan, serta mendukung pengembangan layanan angkutan penumpang dan barang.

Meski demikian, keuntungan perusahaan tergerus akibat lonjakan rugi dari perusahaan asosiasi dan usaha patungan. Nilainya meningkat dari Rp948,20 miliar pada semester I 2025 menjadi Rp3 triliun pada semester I 2026. Salah satu penyumbang utama berasal dari PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), pemegang saham PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) selaku operator Kereta Cepat Jakarta–Bandung. PSBI masih mencatat rugi sebesar Rp5,13 triliun, sementara total liabilitasnya sebesar Rp21,54 triliun, sedikit lebih tinggi dibandingkan total aset sebesar Rp21,52 triliun.

Sementara itu, kondisi neraca KAI tetap menunjukkan perbaikan. Hingga 30 Juni 2026, total aset KAI Group tercatat Rp104,79 triliun. Total liabilitas turun menjadi Rp65,11 triliun dari Rp66,14 triliun pada akhir 2025, sedangkan ekuitas meningkat menjadi Rp39,69 triliun. Utang jangka pendek juga turun dari Rp16,20 triliun menjadi Rp15,17 triliun.

Sebelumnya, Chief Operating Officer BPI Danantara Dony Oskaria menyatakan pihaknya masih membutuhkan waktu untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang membebani kondisi keuangan KAI, termasuk dampak investasi pada proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung yang dinilai menjadi salah satu tantangan terbesar yang sedang ditangani.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button