Garuda Indonesia Pimpin Holding Maskapai BUMN, Mampukah Bangkit dari Tekanan Kinerja?
JAKARTA – Pemerintah menunjuk PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk sebagai holding maskapai milik negara. Melalui skema tersebut, Pelita Air akan bergabung ke dalam Garuda Indonesia Group, melengkapi Citilink yang selama ini telah menjadi anak usaha perseroan.
Kepala Badan Pengelola BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menyebut pembentukan holding bertujuan menciptakan maskapai BUMN yang lebih kuat dan mampu menguasai pasar melalui sinergi antarentitas.
Menurutnya, industri penerbangan merupakan bisnis yang sangat kompetitif sehingga membutuhkan skala usaha yang besar agar lebih efisien, baik dalam pengelolaan armada, pengadaan, pemeliharaan pesawat, maupun pengembangan jaringan penerbangan.
Datang di Tengah Kinerja yang Masih Berat
Keputusan menjadikan Garuda sebagai holding muncul di tengah tantangan besar yang masih dihadapi perusahaan.
Berdasarkan laporan keuangan 2025, Garuda Indonesia membukukan:
-Pendapatan usaha sebesar US$3,21 miliar, turun dari US$3,41 miliar pada 2024.
-Rugi bersih mencapai US$319,39 juta atau sekitar Rp5,42 triliun, jauh lebih besar dibanding rugi tahun sebelumnya sebesar US$69,77 juta.
-Total aset mencapai US$7,43 miliar.
-Total liabilitas sebesar US$7,33 miliar, sehingga ruang permodalan perusahaan masih relatif terbatas.
Kontributor terbesar pendapatan masih berasal dari penerbangan berjadwal senilai sekitar US$2,14 miliar, sedangkan sisi biaya masih didominasi beban operasional penerbangan serta biaya pemeliharaan armada.
Penyebab Rugi: Armada Belum Pulih Sepenuhnya
Manajemen Garuda menjelaskan penurunan kinerja pada 2025 dipengaruhi banyaknya pesawat yang belum dapat dioperasikan (unserviceable aircraft), terutama pada semester pertama 2025.
Kondisi tersebut menyebabkan kapasitas produksi turun sehingga berdampak langsung terhadap pendapatan perusahaan. Selain itu, fluktuasi nilai tukar rupiah dan meningkatnya biaya tetap turut menekan laba perseroan.
Meski demikian, Garuda menyebut dukungan pendanaan dari Danantara mulai membantu percepatan pemulihan armada. Perseroan menargetkan pada akhir 2026 dapat mengoperasikan sekitar 68 armada Garuda Indonesia dan 50 armada Citilink yang siap terbang.
BUMNKini Insight
Pembentukan holding maskapai BUMN dapat menjadi titik balik transformasi Garuda Indonesia. Namun, status sebagai induk perusahaan bukan jaminan otomatis memperbaiki kinerja keuangan.
Tantangan terbesar tetap berada pada kemampuan manajemen meningkatkan utilisasi armada, memperbaiki profitabilitas, menekan biaya operasional, serta mengintegrasikan Citilink dan Pelita Air tanpa menimbulkan birokrasi baru.
Jika sinergi berhasil dijalankan, holding ini berpotensi menciptakan maskapai nasional yang lebih efisien dan kompetitif. Sebaliknya, apabila integrasi hanya berhenti pada perubahan struktur organisasi tanpa perbaikan operasional, konsolidasi berisiko hanya memindahkan persoalan ke dalam satu payung korporasi yang lebih besar.



