BRI Raup Laba Rp31,2 Triliun, Segmen UMKM Masih Jadi Penopang Utama

JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mencatat kinerja positif sepanjang semester I 2026. Laba bersih konsolidasi perseroan mencapai Rp31,2 triliun, meningkat 17,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp26,53 triliun.
Kinerja tersebut menunjukkan kemampuan BRI mempertahankan pertumbuhan profitabilitas di tengah dinamika industri perbankan. Pertumbuhan laba terutama ditopang oleh peningkatan pendapatan bunga bersih, sementara perseroan juga mampu menekan beban bunga.
Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, pendapatan bunga BRI mencapai Rp107,92 triliun, naik dibandingkan Rp102,38 triliun pada semester I 2025. Pada saat yang sama, beban bunga turun menjadi Rp27,39 triliun dari sebelumnya Rp29,10 triliun. Kondisi tersebut mendorong pendapatan bunga bersih BRI menjadi Rp80,53 triliun, tumbuh 9,9 persen secara tahunan.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan pencapaian tersebut merupakan hasil dari transformasi berkelanjutan yang dilakukan perseroan, termasuk penguatan fundamental, efisiensi serta penerapan manajemen risiko yang lebih disiplin.
Dari sisi penyaluran kredit, BRI mencatat total kredit dan pembiayaan konsolidasi mencapai sekitar Rp1.645,5 triliun pada akhir Juni 2026. Angka tersebut menunjukkan posisi BRI sebagai salah satu bank dengan skala intermediasi terbesar di Indonesia.
Yang menarik, segmen usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) masih menjadi tulang punggung portofolio kredit BRI. Hingga akhir semester I 2026, kredit UMKM mencapai Rp1.235,4 triliun, atau sekitar 75,1 persen dari total kredit perseroan. Penyaluran tersebut tumbuh 8,6 persen secara tahunan.
Besarnya porsi UMKM memperlihatkan bahwa ekspansi kredit BRI masih erat kaitannya dengan fungsi perseroan sebagai bank yang memiliki fokus pada pembiayaan ekonomi kerakyatan.
Namun, ekspansi kredit juga harus diimbangi dengan kemampuan menjaga kualitas aset. Pada akhir Juni 2026, rasio non-performing loan (NPL) bruto BRI membaik menjadi 2,9 persen. Perbaikan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa pertumbuhan kredit masih diikuti dengan penguatan pengelolaan risiko.
Selain kredit, BRI juga terus memperkuat sumber pendapatan dari bisnis nonbunga. Pendapatan jasa asuransi bersih perseroan dan entitas anak, misalnya, meningkat menjadi sekitar Rp648,69 miliar, dibandingkan Rp437,11 miliar pada semester I tahun sebelumnya.
Pertumbuhan laba tersebut juga terjadi setelah pada kuartal I 2026 BRI telah membukukan laba bersih Rp15,5 triliun atau tumbuh 13,74 persen secara tahunan. Dengan capaian semester I, pertumbuhan laba BRI semakin menguat dibandingkan tiga bulan pertama tahun ini.
Kinerja semester I sekaligus memperlihatkan strategi BRI yang berupaya menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan kualitas aset. Pertumbuhan kredit tetap dijalankan secara selektif, sementara pengelolaan biaya dana dan risiko menjadi bagian penting dalam mempertahankan profitabilitas.
Bagi BRI, tantangan pada paruh kedua 2026 adalah mempertahankan momentum tersebut ketika kondisi industri perbankan masih menghadapi perubahan biaya dana, kualitas kredit dan kebutuhan pembiayaan yang terus berkembang.
Pertumbuhan kredit UMKM juga akan menjadi salah satu faktor penting. Dengan porsi lebih dari 75 persen dari total kredit, perubahan kualitas sektor UMKM akan memiliki pengaruh cukup besar terhadap kinerja BRI secara keseluruhan.
Di sisi lain, membaiknya NPL memberikan ruang bagi BRI untuk melanjutkan ekspansi secara lebih terukur. Bank perlu memastikan pertumbuhan kredit tidak hanya menghasilkan peningkatan volume bisnis, tetapi juga memberikan imbal hasil yang sepadan dengan risiko yang diambil.
Kinerja semester I 2026 akhirnya memberikan gambaran bahwa BRI masih mampu mencatat pertumbuhan laba dua digit sekaligus mempertahankan dominasi kredit UMKM. Kombinasi pertumbuhan pendapatan bunga, penurunan beban bunga, ekspansi kredit dan perbaikan kualitas aset menjadi faktor utama yang menopang kinerja perseroan.
Dengan laba Rp31,2 triliun hingga Juni 2026, perhatian berikutnya akan tertuju pada kemampuan BRI mempertahankan pertumbuhan tersebut hingga akhir tahun, terutama di tengah upaya memperluas pembiayaan sekaligus menjaga kualitas kredit.



