BUMN

Pemegang Obligasi Tolak Usulan Penundaan Bunga Adhi Karya Rp2,4 Triliun

Jakarta – Upaya PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) untuk memperoleh kelonggaran pembayaran bunga obligasi menghadapi penolakan dari pemegang obligasi. Keputusan tersebut menjadi perhatian di tengah upaya perusahaan konstruksi BUMN itu menjaga likuiditas dan memperkuat struktur keuangannya.

Penolakan tersebut diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) yang membahas proposal perseroan terkait penundaan pembayaran bunga obligasi. Nilai obligasi yang menjadi bagian dari restrukturisasi tersebut mencapai sekitar Rp2,4 triliun.

Bagi Adhi Karya, keputusan pemegang obligasi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena memberikan ruang yang lebih terbatas bagi perseroan untuk mengatur arus kas. Sebelumnya, perusahaan telah melakukan berbagai langkah untuk menurunkan kewajiban dan memperbaiki kondisi keuangannya.
Dalam keterbukaan informasi perusahaan, Adhi Karya mencatat masih memiliki sejumlah instrumen obligasi yang belum jatuh tempo. Salah satunya adalah Obligasi Berkelanjutan IV Adhi Karya Tahap I Tahun 2024 yang diterbitkan dengan nilai pokok sekitar Rp102,7 miliar dan tingkat bunga tetap 10,65 persen per tahun.

Perkembangan terbaru ini juga perlu dilihat dalam konteks kondisi keuangan perseroan. Pada semester I 2026, Adhi Karya membukukan pendapatan sekitar Rp3,11 triliun, turun 18,59 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meski demikian, laba bersih perseroan tercatat sekitar Rp8,49 miliar, meningkat 12,6 persen secara tahunan.

Kinerja tersebut memperlihatkan bahwa peningkatan laba belum serta-merta berarti tekanan likuiditas perusahaan hilang. Dalam bisnis konstruksi, kebutuhan modal kerja dan kewajiban pembiayaan tetap menjadi faktor penting yang harus dikelola secara hati-hati.

Sebelumnya, Adhi Karya juga menghadapi persoalan pembayaran piutang dari proyek LRT Jabodebek. Perseroan pernah menyampaikan bahwa masih terdapat piutang sekitar Rp2,2 triliun dari proyek tersebut yang diharapkan dibayarkan melalui PT Kereta Api Indonesia (Persero). Dana tersebut dinilai penting untuk membantu perseroan memenuhi kewajiban kepada pemasok dan mendukung kebutuhan modal kerja.

Dengan kondisi tersebut, keputusan pemegang obligasi menolak penundaan pembayaran bunga membuat manajemen ADHI harus mencari ruang lain untuk menjaga keseimbangan arus kas. Pilihannya dapat berupa optimalisasi kas internal, percepatan penagihan piutang, efisiensi belanja, maupun penyelesaian aset dan proyek yang dapat menghasilkan arus kas.

Dari perspektif investor, keputusan pemegang obligasi juga menunjukkan bahwa kepentingan antara perusahaan dan kreditur tidak selalu berada pada posisi yang sama. Perusahaan membutuhkan fleksibilitas pembayaran untuk menjaga likuiditas, sementara pemegang obligasi berkepentingan memperoleh pembayaran bunga sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat.

Hal tersebut menjadikan keputusan RUPO sebagai bagian penting dalam melihat tingkat kepercayaan kreditur terhadap kemampuan perseroan memenuhi kewajibannya.

Adhi Karya sendiri telah melakukan sejumlah langkah untuk menurunkan beban utangnya. Manajemen sebelumnya menyebut perseroan telah menurunkan utang kepada pemasok sekitar Rp4 triliun dan utang perbankan sekitar Rp2,4 triliun pada 2024.

Namun, tantangan berikutnya adalah menjaga agar perbaikan tersebut dapat berlanjut tanpa mengganggu kemampuan perusahaan menjalankan proyek-proyek yang sedang dikerjakan. Sebagai perusahaan konstruksi, keberlangsungan proyek dan kemampuan menghasilkan arus kas operasional menjadi sangat menentukan.

Karena itu, penolakan terhadap usulan penundaan bunga obligasi sebaiknya tidak hanya dibaca sebagai kabar negatif bagi Adhi Karya. Keputusan tersebut juga menjadi ujian bagi kemampuan manajemen mengelola likuiditas, memenuhi kewajiban kepada kreditur, sekaligus menjaga kegiatan operasional perusahaan.

Ke depan, perhatian investor akan tertuju pada kemampuan Adhi Karya meningkatkan arus kas, mempercepat penyelesaian piutang, mengendalikan kewajiban keuangan, serta memastikan proyek-proyek yang dimiliki dapat memberikan kontribusi terhadap kas perusahaan.

Pada akhirnya, tantangan terbesar ADHI bukan hanya meningkatkan laba, tetapi memastikan laba tersebut benar-benar diikuti dengan arus kas yang cukup untuk memenuhi kewajiban finansial. Dalam industri konstruksi dengan kebutuhan modal kerja yang besar, kemampuan mengelola kas akan menjadi salah satu penentu utama keberlanjutan kinerja perseroan. adhiadhia

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button