OJK: Sektor Keuangan RI Tetap Stabil di Tengah Ketidakpastian Global
Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan kondisi sektor jasa keuangan Indonesia masih berada dalam situasi yang stabil, meski ketidakpastian ekonomi global kembali meningkat akibat eskalasi ketegangan geopolitik serta kebijakan perdagangan yang diterapkan Amerika Serikat.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyampaikan bahwa kesimpulan tersebut diperoleh berdasarkan hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK yang berlangsung pada 29 Juli 2026.
“RDKB OJK pada 29 Juli 2026 menilai stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan pasar keuangan global,” ujar Friderica dalam konferensi pers RDK OJK, Selasa (4/8/2026).
Ia menuturkan, ketidakpastian global kembali meningkat seiring memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah setelah upaya gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat tidak membuahkan hasil.
Situasi tersebut memicu kenaikan harga energi dunia sekaligus meningkatkan premi risiko di pasar keuangan global.
Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi sekitar 3% karena ketidakpastian yang masih membayangi perekonomian dunia. Meski demikian, Friderica menilai derasnya investasi pada sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) berpotensi menjadi penopang pertumbuhan ekonomi global sekaligus menjadi faktor pendorong dari sisi positif.
Di saat yang sama, Amerika Serikat mulai memberlakukan skema tarif baru terhadap sekitar 60 negara mitra dagangnya sebagai pengganti kebijakan tarif sementara yang sebelumnya diterapkan. Kebijakan tersebut diperkirakan dapat memperbesar tekanan terhadap aktivitas perdagangan global.
Friderica menuturkan, lonjakan harga energi dunia telah meningkatkan premi risiko di pasar keuangan. Tekanan tersebut berpotensi terus berlanjut apabila ketegangan geopolitik belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
OJK juga menyoroti sejumlah indikator ekonomi global yang masih melambat. Aktivitas manufaktur di negara berkembang belum pulih, sementara pertumbuhan ekonomi China melemah akibat konsumsi domestik dan investasi swasta yang masih lesu, meski ekspor tetap menjadi penopang utama perekonomiannya.
Di Eropa dan Inggris, laju inflasi terus menunjukkan tren penurunan. Di sisi lain, pergerakan pasar keuangan global masih beragam, dengan arus keluar dana investor asing kembali terjadi, meski nilainya lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.
“Di tengah perkembangan tersebut, OJK terus memantau berbagai risiko yang dapat memengaruhi stabilitas sektor jasa keuangan domestik,” kata Friderica.



